Pages

Sabtu, 16 Agustus 2014

#5 Sepi yang Abadi

Tanggal 12 Agustus yang lalu, kalau tidak salah ingat, saya berkata setengah 'spontan' kepada teman2 yang sontak mengejutkan mereka: "Aku merasa kesepian."

Tidak salah jika mereka merasa kaget: saya memiliki keluarga, yang walaupun saya 'merantau', tapi waktu yang diperlukan untuk pulang hanya 2 jam maksimal, saya memiliki prestasi kuliah yang bagus, dosen-dosen menyukai dan memuji saya, saya aktif dalam organisasi, punya banyak teman, dan......saya memiliki seorang 'partner'. Aneh kan kalau sebegitu masih merasa 'sepi'? Tapi kenyataannya saya masih merasa kesepian.

Apa yang kurang? Sebegitu saja masih ada yang kosong dalam hati..

Saya teringat, banyak orang yang mengalami 'sepi' ini, lalu lari pada hal-hal yang dirasa akan mengisi 'kekosongan' itu: narkoba, seks, selingkuh, pacar, kerja, travelling, dll. Tapi di saat ketika 'sepi' itu melanda saya, saya menyadari...itulah tempat dimana Tuhan ada. Tempat yang oleh apapun di dunia ini tidak akan pernah diisi atau tergantikan oleh apapun...oleh harta, tahta, kekasih, atau yang lain.

Sontak saya teringat sebuah buku yang berjudul "Lady in Waiting" karya Jackie Kendall dan Debby Jones dimana diceritakan bahwa banyak wanita merindukan kehadiran seorang 'pria' dalam hidup mereka dengan harapan akan menghilangkan 'sepi' di dalam hati mereka, yang akhirnya berujung pada kekecewaan, karena sesungguhnya 'sepi' itu tidak bisa hilang dengan kehadiran seorang 'pria'. Itu tempat Tuhan, dan hanya Yesus yang sanggup mengisi kekosongan itu.

Saya mensyukuri rasa sepi yang Tuhan taruh dalam hati saya saat ini, karena hal tersebut membuat saya menyadari betapa fananya hidup saya. Saya menyadari bahwa apapun atau siapapun di dunia ini tidak akan pernah bisa mengisi 'kekosongan' yang abadi ini. Mungkin ini sebuah panggilan untuk kembali...kembali ke jalan yang benar dimana Yesus adalah prioritas dan yang lain akan mengikuti.