Pages

Kamis, 16 Oktober 2014

#7 I AM a woman

Di akhir kesibukan hari ini saya menyadari, lantas mensyukuri sesuatu: saya mensyukuri keberadaan saya sebagai 'wanita': 

Saya bisa belajar dengan baik dan berprestasi, sebuah ekspresi akademik yang diperjuangkan haknya oleh Kartini; dan....saya masih bisa menjalani peran sebagai 'wanita': saya bisa mencuci dan menyeterika baju saya sendiri, bisa membereskan kamar, bisa menguras dan menyikat bak mandi, masih bisa memasak, walaupun rasanya acak-adul: tidak bisa dibilang enak, tp tdk bisa dikatakan tdk enak jg, masih bisa merias diri sendiri utk stdknya tdk terlihat 'hancur' sekali..hahaha =D 

Inilah hal yg saya syukuri dlm keadaan saya sbg 'wanita', yet I am wondering. Tuhan memberikan anugerah lebih dlm hal akademik dlm hidup saya, yg seringkali wanita pintar....dan rajin dipukul rata sbg wanita yg tdk 'membumi'. Iya pintar, tp ga bisa melakukan kerjaan 'rumah tangga'. Iya pintar, tp cupu. Iya pintar, tp songong. Iya pintar, tp tdk bisa membaur dgn masyarakat. Itu sebuah tudingan yg acapkali sy dengar kpd mereka yg dianugerahi kapasitas otak lebih. Saya tdk membantah krn bs jd mrk melontarkan tudingan tsb berdasarkan fakta, tp sy membantah jika orang-orang membuat generalisasi.

Bbrp org mengenal saya sbg org yg rajin, lantas bbrp memandang kehidupan sy sbg kehidupan 'rodi' yg sehabis ini kerjakan itu, kerjakan ini, kerjakan sana, kerjakan sini, blablabla. Bagi sy inilah seni menjalani kehidupan sy sbg wanita. Saya menghargai perjuangan Kartini dgn mengasah keterampilan akademik saya, namun saya ttp menghargai gender role yg society berikan kpd wanita: by being able to do what the society expects women to do.

Sy sdg menikmati peran sy sbg wanita. Asah otak, ayo. Asah keterampilan sbg wanita, ayo. Sy bersyukur bhw sy msh bisa mengerjakan scr mandiri apa yg jd tanggung jwb sy, tp jg bisa membagi hidup dgn seorang pria yg saya kasihi.

Jika seseorang bertanya pd sy, "Ingin jadi wanita spt apa kamu?"
Saya akan berkata: Amsal 31:10-31