Pages

Sabtu, 02 Agustus 2014

#4 Masih Ada Banyak PR

Belakangan saya merenung:
Semakin hari saya tidak semakin muda, tapi saya merasa saya belum melakukan apa-apa. Saya belum melakukan apa-apa untuk sesama; saya belum memberi dampak apa-apa. Dan....hari lepas hari saya semakin bertambah tua :)

Seringkali ada banyak impian ada di benak...cita-cita yang luhur dan mulia, tapi hanya berhenti di mimpi, tanpa eksekusi. Seringkali ada banyak sekali keinginan, sesuatu yang bermakna bagi sesama, tapi ada banyak sekali keterbatasan. Kadangkala saya merasa hidup saya seperti bukan hidup saya sendiri...

Secara kasat mata, bagi mereka yang mengenal saya, mereka mungkin mengerti dan akan berkata 'iya', tapi dalam hati, saya mengerti bahwa untuk orang-orang yang mau maju, itu hanya sebuah alasan...alasan untuk mengasihani diri dan berhenti berkarya. Alasan untuk menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam, sekalipun hal tersebut tak sepenuhnya salah...tidak sepenuhnya salah.

Dalam doa saya hari-hari ini, saya menyampaikan isi hati saya kepada Tuhan, dan meminta-Nya untuk menerangi serta mengarahkan jalan saya. Satu hal yang saya percaya bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Tuhan yang menilai setiap niat hati saya, dan niscaya jika itu niat untuk berguna bagi sesama dan memuliakan Tuhan, Dia pasti buka jalan.

Banyaknya panggilan untuk dikerjakan bagi sesama seringkali membuat kepala saya terasa penat. "Apa yang bisa saya kerjakan?" Panggilan di hati serasa hendak meluap, tapi eksekusi belum juga dapat dilaksanakan. Trenyuh sekali rasanya. Tetapi saya tidak meminta bahwa Tuhan menghilangkan perasaan ini, saya justru meminta agar perasaan ini terus-menerus meluap sampai saya tidak bisa menahan hati saya untuk tidak berbuat sesuatu.

Kemaren malam saya membaca sebuah renungan yang menguatkan hati saya. Saya belajar tentang imam Ezra. Bagaimana hatinya rindu untuk meneliti, melakukan, dan mengajar Taurat Tuhan dan tangan Tuhan menyertai-Nya. Di sinilah saya belajar dan percaya, bahwa jika di hatinya tersimpan niat luhur yang dibarengi dengan doa dan usaha,Tuhan pasti buka jalan. Saya masih belum melakukan sesuatu yang berarti, tapi jika saya terus berusaha, mencari jalan, dan berdoa, Tuhan akan buka jalan.

Rabu, 30 Juli 2014

#3 Hidup itu adil?

Saya tidak terlalu yakin bahwa hidup itu adil..tapi saya percaya bahwa Tuhan itu MAHA ADIL. Apakah lantas opini saya berseberangan? Karena bukankah hidup ada karena Tuhan? Lantas bagaimana saya percaya bahwa Tuhan MAHA ADIL sedangkan saya berkata bahwa hidup itu tidak adil?
Entahlaah...

Malam hari ini saya pergi makan malam di luar bersama keluarga. Tiba-tiba ada seorang bapak menawarkan majalah-majalah untuk kami beli. Trenyuh sekali hati saya. Ini sudah malam, dan masih saja ada beliau yang menjajakan majalahnya. Berapa keuntungan yang dia dapat? Atau lebih tepatnya adakah yang membeli majalahnya hari ini?

Spontan sekali saya merasa sangat sedih. Saya teringat sebuah kisah tentang 'sarjana' yang mengemis-ngemis, maksud saya benar-benar mengemis dan penghasilannya bisa membuatnya hidup berlimpah. Seorang SARJANA!!! Teringat juga seorang pengemis di dekat rumah kos saya, yang cara mengemisnya sangat refined sekali...dia mengucapkan doa-doa berkat untuk kami sembari meminta welas asih kami...sedangkan dia masih muda, saya rasa belum sampe 30 tahun, badannya tambun dan sangat segar. Haruskah mengemis?

Ironi sekali...di saat pria yang berusia senja siang malam bekerja untuk sesuap nasi, di saat tubuh yang seharusnya dimanjakan harus memanggul beban yang mungkin melebihi berat badannya, sedangkan orang-orang yang masih muda, segar, dan produktif justru hidup hanya dengan bergantung pada welas asih orang. Yang menjadi ironi adalah 'penghasilan' mereka justru lebih banyak daripada mereka yang masih mati-matian bekerja. Lantas tidak heran jika ketika pak gubernur mengalami kesulitan saat hendak menertibkan orang-orang seperti ini. Bagaimana tidak? 'Pekerjaan' mereka menghasilkan 'pendapatan' yang lebih besar daripada harus banting-tulang 'bekerja'.

Melihat realita ini seringkali saya terdiam dan merenung. Ketika melihat mereka yang benar-benar bekerja membanting tulang, apalagi dengan usia yang tak lagi muda, terkadang justru saya memalingkan muka atau sengaja tidak melihat...karena saya tidak bisa menahan hati untuk tidak merasa trenyuh. Dan spontan...bayangan-bayangan tentang mereka yang tak seharusnya meminta welas asih orang terlintas. "Apakah hidup ini adil?"

Minggu, 27 Juli 2014

#2 ini CINTA!!

Prianya terlahir di keluarga yang berada, namun sayang bisnis mereka jatuh, dan terpaksa ia berhenti sekolah di SD/SMP *saya lupa, yg jelas bukan SMA*

Si wanita terlahir dari keluarga berada, hidup serba enak dan dimanjakan....lantas dia bersekolah di perguruan tinggi swasta terwahid di ibu kota.

Si pria memilih menjalani hidup dengan memenuhi panggilan Tuhan bagi dirinya..menjadi seorang 'hamba Tuhan' walaupun bukan bernaung di bawah gereja...dengan penghasilan hanya 300rb/500rb *sy lupa lg tepatnya, tetapi jelas tak lebih dr angka 5*
 ***
Dan mereka menikah, menjadi pembicara yang sangat inspiratif, terjun dalam pelayanan, melayani Tuhan bersama-sama...keliling dunia berdua, terjun dalam sebuah pelayanan bersama yang sesuai dengan bidang mereka masing-masing, menjadi tim yang sangat solid, dan terutama menjadi berkat.
- Terlalu biasa??
- Tidak mungkin!! Tidak mungkin semudah itu...
- How come? Kok iso?

Jelas ada cerita..

Pertemuan mereka sederhana, pertemuan mereka tidak spesial, dari sebuah kebetulan yang jelas bukan kebetulan kalau Tuhan mengijinkan. Dengan perbedaan yg 'cukup' atau 'jelas' mencolok ini, pasti ada cerita.

Hari itu si pria bercerita:
Saya berkata kepadanya *si wanita, red*, "Saya hanya lulusan SD/SMP *lupa*..penghasilan saya hanya 300/500rb *lagi2 sy lupa*."
"Ketika saya mengatakan hal itu", kata si pria, "tidak ada perubahan raut muka darinya *si wanita*."

...............wow...batinku berkata

Hari berikutnya si wanita melanjutkan:
Ketika dia pergi ke rumah saya untuk bertemu ayah..dia hanya berpakaian sederhana, atau katakanlah 'dekil', menenteng-nenteng tas kresek. Begitu bertemu, ayah menarik saya dan berkata "Apa tidak ada yang lain?"
Si wanita dengan tegas menjawab "TIDAK!!"

...............is that for real?...I was absolutely speechless
***

Ini kisah cinta yang paling dekat sekaligus paling membekas di hati saya. 
Dari sisi pria, saya berpikir, hebat sekali dia. Bagaimana rasanya? Kehidupannya berubah sangat drastis, namun dia tidak menyimpan kepahitan, dia 'bangga' dengan panggilan hidupnya sebagai seorang 'pelayan Tuhan'. Ketika dia mencintai seorang wanita, dia 'sadar' akan posisinya, dia menawarkan 'keadaannya' kepada si wanita, bukan menutupi-nutupi karena takut ditinggalkan..dan sebagai imbalannya si wanita menerimanya UTUH, tanpa perubahan raut muka yang menandakan adanya kekecewaan karena keadaan.
Saya hormat dengan pria ini membayangkan tekanan yang dia hadapi sembari berjuang untuk bisa bersama wanita yang ia kasihi, membayangkan pergulatan pribadi, maupun tekanan eksternal.

Dari si wanita, saya berpikir, wanita ini luar biasa. Betapa tidak..dengan semua yang dia miliki, pendidikan yang dia enyam, dia tetap menautkan hatinya pada seorang pria yang 'sederhana' dan tanpa ragu ia menerima, serta menghilangkan opsi lain. Hatinya tegas,,dan mantab, tp bkn berarti tekanan berhenti. Sebagai wanita, saya mengerti bahwa pasti ada tekanan dr luar yg menekan sangat sampai ke dalam, tp toh dia tetap bertahan.
***

Cinta adalah rasa syukur. Cinta adalah doa. Beberapa orang percaya bahwa jodoh di tangan Tuhan, yang lain percaya bahwa Tuhan memberi keleluasaan bagi kita untuk memilih dengan siapa kita hendak menjalani hidup.
Saya percaya bahwa Tuhan menghormati keputusan saya, termasuk dengan siapa saya hendak menjalani hidup, tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa doa senantiasa menjagai langkah saya. Sudah tidak terhitung berapa kali Tuhan menutup jalan saya dengan seorang pria, yang pada akhirnya saya memahami bahwa Dia melakukannya untuk kebaikan saya,,,sampai ada suatu masa, ketika saya merasa lelah, mulai menyerah, dan pasrah dengan keadaan untuk memperjuangkan kebersamaan dengan orang yang saya kasihi, Tuhan menjagai saya untuk tetap bertahan.
Seringnya 'kebetulan', bahkan saking seringnya 'kebetulan', membuat saya sadar bahwa ini bukan 'kebetulan'. Di saat mulai lelah dan menyerah, doa menggerakan Tuhan untuk menggerakan segala hal yang ada di sekitar saya untuk menyampaikan sebuah pesan: "Jangan menyerah!" "Belum waktunya menyerah, nak."

"Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Tapi kita bisa memilih, siapa yang patut untuk tetap diperjuangkan."
Ada kalanya kita mencintai seseorang yang akhirnya harus dilepaskan. Ada kalanya kita diperhadapkan pada pilihan. Ada kalanya kita harus menyerah. Ada kalanya kita dikhianati, dan lain sebagainya. Tapi jangan lupa, juga masih ada orang yang patut untuk diperjuangkan. Jangan sampai 'luka' membuat kita 'buta' akan segala hal yang masih baik dan pantas untuk diperjuangkan.

http://berawancom.blogspot.com/2014/05/kita-tidak-bisa-memilih-dengan-siapa.html