Pages

Jumat, 13 November 2015

#17 Diam

Dulu, aku senang sekali bercerita. Bercerita tentang apapun yang sedang aku senangi, tangisi, kesalkan, sesalkan. Aku suka sekali mengumbar semuanya. Dulu.

4 tahun lalu aku merasa aku bukan lagi aku yang dulu suka bercerita. Apa atau siapa atau bagaimana aku berubah, aku tidak tau pasti. Yang kutau hanya aku tak lagi sama. Aku yang suka bercerita.

Kala itu dan saat ini aku menyadari, tak semua pikiran dapat tertuang dalam bahasa. Ada hal-hal sulit, bahkan terlalu sulit untuk dibahasakan. Maka, aku memilih diam. Tapi dalam diam, aku bukan menjadi pengecut. Tidak, tidak. Aku tidak menjadi pengecut. Aku belajar berani.

Aku belajar untuk tidak banyak berkeluh. Aku belajar untuk menerima konsekuensi pilihan yang kubuat. Aku belajar mengalami proses. Aku belajar mendengar.

Aku bertemu manusia. Kami berbicara. Kami berbagi. Dan aku memahami. Memahami utuh, tanpa intervensi ceritaku. Mendengar utuh.

Dalam diamku, aku bergumul. Dalam diamku, aku pasrah kepada Tuhanku, sama seperti malam ini. Beberapa halaman kehidupanku sungguh-sungguh tak dapat kupahami. Sukar. Rumit. Gelap. Dalam diamku, aku pasrah. Dalam diamku, aku percaya. Dalam diamku, aku menanti jawaban doaku. Dalam diamku, tanpa satu manusiapun yang tau, aku berserah pada Tuhanku.


"Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya."
-Mazmur 73:26-