To live is to choose, hidup itu pilihan. Kalimat ini dulunya terdengar begitu klise di telinga saya. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa ada kebenaran di balik kata-kata klise ini.
Hidup itu memilih.
Memilih untuk hidup searah dengan arus, atau berlawanan dengannya.
Hidup itu memilih.
Memilih bertahan, atau menyerah.
Seandainya seseorang mengeluh dengan kehidupan yang dijalaninya, saya yakin bahwa masing-masing memiliki berbagai alasan untuk marah. Masing-masing memiliki alasan untuk menjadi pahit. Tapi kembali, bahwa hidup adalah pilihan.
Hari ini saya tersadar, jika saya hendak merasa marah dan pahit dalam hidup saya, saya punya berbagai alasan untuk hal tersebut. Saya hidup dikelilingi dengan ekspektasi yang tinggi terhadap diri saya. Ada kalanya saya bertanya, "Saya sudah melakukan ini itu. Masihkah kurang?"
Hidup itu memilih untuk merasa getir, atau beriman. I'm doing something for something I dunno yet, saya melakukan sesuatu untuk sesuatu yang tidak saya tahu sekarang. Tapi setiap orang memilih, memilih untuk menjalani hidup dengan cara seperti apa.
Memilih menjadi pahit.
Memilih menjadi percaya.
0 komentar:
Posting Komentar