Dari balik jendela ini, biasa aku terdiam. Termenung, sepi,
sambil menatap ke arah langit-langit biru cerah. Imajinasiku liar. Jendela ini,
menjadi satu-satunya tempat yang bisa membebaskan pikiranku dari penjara tubuh.
Entah sudah berapa tahun lewat. Saat dimana aku memandang ke
jendela, dan membayangkan diriku yang telah dewasa. Kebebasan. Terbang ke
tempat antah berantah, dan memulai segala hal yang baru. Menjadi diriku
sendiri. Utuh.
***
Dan di sinilah aku sekarang. Wanita berumur dua puluhan. Apa
yang berubah? Aku berpikir keras...
Tak ada!
Masihkah aku memandang jendela ini dengan perasaan yang sama
ketika aku seorang bocah?
Penipu!
Kebebasan tidak serta merta diraih kala aku
dewasa.
Penipu!
Haruskah aku marah karena ilusi jendela ini? Atau haruskah
aku marah pada diriku sendiri yang terlalu naif? Pada akhirnya aku menyadari,
kebebasan tidak serta merta datang karena aku berusia duapuluhan. Kebebasan
datang kala aku berani memperjuangkannya.
0 komentar:
Posting Komentar