Ingatkah engkau akan filosofi kapal yang dulu pernah kau ceritakan?
Kau bilang pernikahan itu layaknya kapal yang orang lain bisa berkata banyak tentangnya: "Kapal ini tidak baik untukmu."; "Kapal ini bagus untukmu."; "Kau layak menaiki kapal yang lebih baik."
Aku bertanya, "Ingatkah engkau akan filosofi kapal yang dulu pernah kau ceritakan?"
Orang lain bisa berlagak sok tahu menceramahimu tentang kapal mana yang terbaik untukmu, tapi kau bilang bahwa mereka bukan engkau yang menaiki kapal itu bersama dengan rekan hidupmu. Lantas siapa yang tahu? Kau bilang hanya yang menaikinya yang tahu. Kau bilang kapal itu urusanmu dan rekan hidupmu.
Ingatkah engkau akan pernikahan yang kau filosofikan sebagai kapal?
Lantas sekarang bagaimana? Kau terlalu jauh berpikir tentang pernikahan.
Lantas sekarang bagaimana? Bahkan ada hal yang lebih penting yang harus kau selamatkan.
Ingatkah engkau akan filosofi kapal yang dulu pernah kau ceritakan?
Kau paham bahwa mereka bisa mengoceh tentang kapal yang harus kau naiki. Kau paham bahwa bahkan kau telah berada di kapal itu. Kau paham bahwa seberapa banyak mereka berbicara, itu bukan urusan mereka untuk mengendalikan kapalmu. Kau paham itu.
Lantas sekarang bagaimana?
Ingatkah engkau akan filosofi kapal yang dulu pernah kau ceritakan?