Kali ini semuanya bergantung pada si lelaki. Si perempuan sudah mengakui dosanya. Ia salah dan ia minta maaf. Titik.
Si perempuan tau bahwa ia menyakiti hati si lelaki. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Semuanya sudah terjadi, dan tak akan pernah bisa diubah lagi.
Si perempuan jatuh dalam jurang rasa bersalah. Tapi bisa apa dia? Semua sudah terjadi. Titik.
Semua bergantung pada si lelaki sekarang.
Namun, rupa-rupanya, ada kisah yang disimpan perempuan ini di hatinya. Diam-diam ia telah beberapa kali memaafkan si lelaki untuk kekhilafan yang tak pernah si lelaki sadari.
Ingatan itu membius si perempuan. Ia mulai merasa apa yang diterimanya kali ini tak sepenuhnya adil. Tapi bisa apa dia karena memang saat ini ia salah. Si perempuan bersalah. Titik.
Si perempuan mulai menimbang untuk mengungkapkan apa yang selama ini telah ia simpan diam-diam. Si perempuan sungguh berpikir keras.
Ketika ia mulai menimbang, Tuhan membisikkan suara lewat hatinya. Ini tidak benar. Ia diingatkan tentang filosofi pulang yang selama ini ia yakini. Tuhan ingatkan si perempuan ini tentang kasih tanpa pamrih. Lagipula, si perempuan telah mengunci dan memaafkannya, serta menyimpannya sebagai masa lalu.
Lalu bagaimana? Bagaimana jika si lelaki memutuskan hal yang tak ia harapakan? Haruskah ia memberitahu si lelaki? Si perempuan takut setengah mati.
Filosofi pulang...
Si perempuan menguatkan hati untuk tetap mengunci cerita yang ia simpan dalam diam. Selain itu, si perempuan merenung. Rupa-rupanya, ia menyadari bahwa mungkin inilah cara Tuhan memanggilnya pulang. Memanggilnya untuk kembali pasrah, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan hidup, dan bersimpuh sujud dalam doa penyerahan.
Filosofi pulang...
Bukankah apa yang memang diperuntukkan untukmu pasti akan kembali padamu?
Sabtu, 27 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar