Pages

Rabu, 31 Desember 2014

#8 The Last Day in 2014

Merupakan sebuah hari yang akan penuh dengan perenungan. Suasana nan khusuk dibarengi dengan perjamuan suci, serta renungan akhir taun yang tidak pernah gagal membuat saya menitikkan air mata. Sudah 12 bulan, 52 minggu, dan 365 hari. =)

Ada berbagai perasaan sendu yang meliputi setiap akhir tahun, tapi saat saya mengingat sedikit memori yang telah lalu,  bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk menguatkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mengakhiri tahun 2012 dan memasuki tahun 2013, saya ingat bahwa Tuhan janjikan saya kemenangan dan itu benar2 terjadi di tahun 2013: penuaian kesuksesan besar-besaran. Akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013, sejujurnya, merupakan tahun yang sangat saya rindukan untuk diulang lagi. Lengkap sekali hidup saya saat itu.

Akhir tahun 2013 tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Dimulai dari bulan Oktober memuncak bulan Desember, merupakan pukulan yang sangat tidak mudah untuk saya lalui. Akan tetapi, saya ingat bahwa di saat saya kehilangan harapan untuk membayangkan langkah di tahun 2014, Tuhan menguatkan saya dengan Roma 12:12. Saya ingat, rasanya seperti ditampar, bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk membuat saya ingat bahwa masih ada harapan, dan segala sesuatu akan baik-baik saja. Dua bulan pertama di tahun 2014 merupakan bulan yang sulit. Saya teringat, mulai dari akhir tahun 2013 dan Februari 2014, begitu banyak hal-hal menyesakkan terjadi dan sudah tidak terhitung berapa banyak air mata tumpah.

Dan di sinilah saya sekarang...hari terakhir di tahun 2014.Tidak mudah menggambarkan tahun ini, Tidak mudah juga untuk belajar kuat dan berjalan dengan iman mengingat masalah-masalah yang begitu pelik, yang secara manusia, jujur, saya sudah kehabisan cara untuk bertahan. Saya heran, bagaimana cara Tuhan untuk menolong saya? Karena bagi saya sebagai manusia, ini merupakan jalan buntu. Saya sudah hampir menyerah. Terlalu banyak emosi yang sudah saya tahan.

Namun demikian, saya masih tetap menunggu keajaiban Tuhan karena saya mengerti, bahkan kenyataan bahwa saya masih bisa bertahan, kenyataan bahwa saya adalah saya yang sekarang, itu juga karena kasih karunia Tuhan, karena secara manusia dan secara logika, tidak mungkin saya masih bisa kuat. Tuhan begitu baik untuk saya. Tuhan sediakan banyak hal yang membuat saya bersukacita dan bahagia.

The last day in 2014, and I am still waiting for what He provides me for the next year! =)

Kamis, 16 Oktober 2014

#7 I AM a woman

Di akhir kesibukan hari ini saya menyadari, lantas mensyukuri sesuatu: saya mensyukuri keberadaan saya sebagai 'wanita': 

Saya bisa belajar dengan baik dan berprestasi, sebuah ekspresi akademik yang diperjuangkan haknya oleh Kartini; dan....saya masih bisa menjalani peran sebagai 'wanita': saya bisa mencuci dan menyeterika baju saya sendiri, bisa membereskan kamar, bisa menguras dan menyikat bak mandi, masih bisa memasak, walaupun rasanya acak-adul: tidak bisa dibilang enak, tp tdk bisa dikatakan tdk enak jg, masih bisa merias diri sendiri utk stdknya tdk terlihat 'hancur' sekali..hahaha =D 

Inilah hal yg saya syukuri dlm keadaan saya sbg 'wanita', yet I am wondering. Tuhan memberikan anugerah lebih dlm hal akademik dlm hidup saya, yg seringkali wanita pintar....dan rajin dipukul rata sbg wanita yg tdk 'membumi'. Iya pintar, tp ga bisa melakukan kerjaan 'rumah tangga'. Iya pintar, tp cupu. Iya pintar, tp songong. Iya pintar, tp tdk bisa membaur dgn masyarakat. Itu sebuah tudingan yg acapkali sy dengar kpd mereka yg dianugerahi kapasitas otak lebih. Saya tdk membantah krn bs jd mrk melontarkan tudingan tsb berdasarkan fakta, tp sy membantah jika orang-orang membuat generalisasi.

Bbrp org mengenal saya sbg org yg rajin, lantas bbrp memandang kehidupan sy sbg kehidupan 'rodi' yg sehabis ini kerjakan itu, kerjakan ini, kerjakan sana, kerjakan sini, blablabla. Bagi sy inilah seni menjalani kehidupan sy sbg wanita. Saya menghargai perjuangan Kartini dgn mengasah keterampilan akademik saya, namun saya ttp menghargai gender role yg society berikan kpd wanita: by being able to do what the society expects women to do.

Sy sdg menikmati peran sy sbg wanita. Asah otak, ayo. Asah keterampilan sbg wanita, ayo. Sy bersyukur bhw sy msh bisa mengerjakan scr mandiri apa yg jd tanggung jwb sy, tp jg bisa membagi hidup dgn seorang pria yg saya kasihi.

Jika seseorang bertanya pd sy, "Ingin jadi wanita spt apa kamu?"
Saya akan berkata: Amsal 31:10-31

Selasa, 19 Agustus 2014

#6 Kasih dalam Komitmen

Bertemu dengannya adalah hal yang sampai hari ini sangat saya syukuri..mencintai dan dicintai dengan sangat, mampu membuat hati ini luluh juga :)

Darinya saya belajar bahwa mengasihi dan mencintai tidak hanya didasarkan pada perasaan, tapi dari komitmen. Ketika saya harus menghadapi 'kegalauan' dan 'kelelahannya', seringkali hati merasa berat untuk menghadapi 'egonya'. Berat rasanya ketika saya bertanya baik-baik dan menunjukkan perhatian, tapi jawabnya hanya seala-kadar, tanpa semangat, bahkan terkesan mendorong. Ingin ego saya membiarkan dia sendirian sampai dia bisa menata dirinya kembali. Lalu saya teringat.....jikalau dia mendasarkan perasaan sayangnya hanya pada 'perasaan' sudah pasti dia meninggalkan saya sedari dulu :)

Teringat diri saya yang terkadang masih 'ababil' dan seringkali 'moody' sudah tentu bukanlah hal yang mudah untuk dia hadapi, tapi toh dia masih mengasihi saya. Ketika saya menjadi sulit untuk dipahami, dia tidak pergi..dia tetap menunjukkan kasihnya pada saya. Ketika saya marah dan kesal dengannya, dia masih tetap memperhatikan dan menegur saya. Hal yang mungkin dia tidak menyadari adalah bahwa yang membuat saya benar-benar 'terikat' dengan orang ini adalah hal-hal kecil yang dia lakukan untuk saya. Kesederhanaan dalam sikapnya yang menunjukkan kasihnya pada saya. Kesederhanaan yang tanpa perlu dia ucapkan, saya tau bahwa dia sungguh-sungguh mengasihi saya, bukan dengan perasaannya saja, tapi dengan komitmennya.

Oleh karena kasih yang selalu dia tunjukkan itulah, saya belajar untuk mengasihi juga dengan komitmen. Saya belajar untuk lebih bersabar, menghilangkan sifat 'moody', dan terus mengasihi. Kepadanya yang saya ucapkan, terimakasih :)

Sabtu, 16 Agustus 2014

#5 Sepi yang Abadi

Tanggal 12 Agustus yang lalu, kalau tidak salah ingat, saya berkata setengah 'spontan' kepada teman2 yang sontak mengejutkan mereka: "Aku merasa kesepian."

Tidak salah jika mereka merasa kaget: saya memiliki keluarga, yang walaupun saya 'merantau', tapi waktu yang diperlukan untuk pulang hanya 2 jam maksimal, saya memiliki prestasi kuliah yang bagus, dosen-dosen menyukai dan memuji saya, saya aktif dalam organisasi, punya banyak teman, dan......saya memiliki seorang 'partner'. Aneh kan kalau sebegitu masih merasa 'sepi'? Tapi kenyataannya saya masih merasa kesepian.

Apa yang kurang? Sebegitu saja masih ada yang kosong dalam hati..

Saya teringat, banyak orang yang mengalami 'sepi' ini, lalu lari pada hal-hal yang dirasa akan mengisi 'kekosongan' itu: narkoba, seks, selingkuh, pacar, kerja, travelling, dll. Tapi di saat ketika 'sepi' itu melanda saya, saya menyadari...itulah tempat dimana Tuhan ada. Tempat yang oleh apapun di dunia ini tidak akan pernah diisi atau tergantikan oleh apapun...oleh harta, tahta, kekasih, atau yang lain.

Sontak saya teringat sebuah buku yang berjudul "Lady in Waiting" karya Jackie Kendall dan Debby Jones dimana diceritakan bahwa banyak wanita merindukan kehadiran seorang 'pria' dalam hidup mereka dengan harapan akan menghilangkan 'sepi' di dalam hati mereka, yang akhirnya berujung pada kekecewaan, karena sesungguhnya 'sepi' itu tidak bisa hilang dengan kehadiran seorang 'pria'. Itu tempat Tuhan, dan hanya Yesus yang sanggup mengisi kekosongan itu.

Saya mensyukuri rasa sepi yang Tuhan taruh dalam hati saya saat ini, karena hal tersebut membuat saya menyadari betapa fananya hidup saya. Saya menyadari bahwa apapun atau siapapun di dunia ini tidak akan pernah bisa mengisi 'kekosongan' yang abadi ini. Mungkin ini sebuah panggilan untuk kembali...kembali ke jalan yang benar dimana Yesus adalah prioritas dan yang lain akan mengikuti.

Sabtu, 02 Agustus 2014

#4 Masih Ada Banyak PR

Belakangan saya merenung:
Semakin hari saya tidak semakin muda, tapi saya merasa saya belum melakukan apa-apa. Saya belum melakukan apa-apa untuk sesama; saya belum memberi dampak apa-apa. Dan....hari lepas hari saya semakin bertambah tua :)

Seringkali ada banyak impian ada di benak...cita-cita yang luhur dan mulia, tapi hanya berhenti di mimpi, tanpa eksekusi. Seringkali ada banyak sekali keinginan, sesuatu yang bermakna bagi sesama, tapi ada banyak sekali keterbatasan. Kadangkala saya merasa hidup saya seperti bukan hidup saya sendiri...

Secara kasat mata, bagi mereka yang mengenal saya, mereka mungkin mengerti dan akan berkata 'iya', tapi dalam hati, saya mengerti bahwa untuk orang-orang yang mau maju, itu hanya sebuah alasan...alasan untuk mengasihani diri dan berhenti berkarya. Alasan untuk menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam, sekalipun hal tersebut tak sepenuhnya salah...tidak sepenuhnya salah.

Dalam doa saya hari-hari ini, saya menyampaikan isi hati saya kepada Tuhan, dan meminta-Nya untuk menerangi serta mengarahkan jalan saya. Satu hal yang saya percaya bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Tuhan yang menilai setiap niat hati saya, dan niscaya jika itu niat untuk berguna bagi sesama dan memuliakan Tuhan, Dia pasti buka jalan.

Banyaknya panggilan untuk dikerjakan bagi sesama seringkali membuat kepala saya terasa penat. "Apa yang bisa saya kerjakan?" Panggilan di hati serasa hendak meluap, tapi eksekusi belum juga dapat dilaksanakan. Trenyuh sekali rasanya. Tetapi saya tidak meminta bahwa Tuhan menghilangkan perasaan ini, saya justru meminta agar perasaan ini terus-menerus meluap sampai saya tidak bisa menahan hati saya untuk tidak berbuat sesuatu.

Kemaren malam saya membaca sebuah renungan yang menguatkan hati saya. Saya belajar tentang imam Ezra. Bagaimana hatinya rindu untuk meneliti, melakukan, dan mengajar Taurat Tuhan dan tangan Tuhan menyertai-Nya. Di sinilah saya belajar dan percaya, bahwa jika di hatinya tersimpan niat luhur yang dibarengi dengan doa dan usaha,Tuhan pasti buka jalan. Saya masih belum melakukan sesuatu yang berarti, tapi jika saya terus berusaha, mencari jalan, dan berdoa, Tuhan akan buka jalan.

Rabu, 30 Juli 2014

#3 Hidup itu adil?

Saya tidak terlalu yakin bahwa hidup itu adil..tapi saya percaya bahwa Tuhan itu MAHA ADIL. Apakah lantas opini saya berseberangan? Karena bukankah hidup ada karena Tuhan? Lantas bagaimana saya percaya bahwa Tuhan MAHA ADIL sedangkan saya berkata bahwa hidup itu tidak adil?
Entahlaah...

Malam hari ini saya pergi makan malam di luar bersama keluarga. Tiba-tiba ada seorang bapak menawarkan majalah-majalah untuk kami beli. Trenyuh sekali hati saya. Ini sudah malam, dan masih saja ada beliau yang menjajakan majalahnya. Berapa keuntungan yang dia dapat? Atau lebih tepatnya adakah yang membeli majalahnya hari ini?

Spontan sekali saya merasa sangat sedih. Saya teringat sebuah kisah tentang 'sarjana' yang mengemis-ngemis, maksud saya benar-benar mengemis dan penghasilannya bisa membuatnya hidup berlimpah. Seorang SARJANA!!! Teringat juga seorang pengemis di dekat rumah kos saya, yang cara mengemisnya sangat refined sekali...dia mengucapkan doa-doa berkat untuk kami sembari meminta welas asih kami...sedangkan dia masih muda, saya rasa belum sampe 30 tahun, badannya tambun dan sangat segar. Haruskah mengemis?

Ironi sekali...di saat pria yang berusia senja siang malam bekerja untuk sesuap nasi, di saat tubuh yang seharusnya dimanjakan harus memanggul beban yang mungkin melebihi berat badannya, sedangkan orang-orang yang masih muda, segar, dan produktif justru hidup hanya dengan bergantung pada welas asih orang. Yang menjadi ironi adalah 'penghasilan' mereka justru lebih banyak daripada mereka yang masih mati-matian bekerja. Lantas tidak heran jika ketika pak gubernur mengalami kesulitan saat hendak menertibkan orang-orang seperti ini. Bagaimana tidak? 'Pekerjaan' mereka menghasilkan 'pendapatan' yang lebih besar daripada harus banting-tulang 'bekerja'.

Melihat realita ini seringkali saya terdiam dan merenung. Ketika melihat mereka yang benar-benar bekerja membanting tulang, apalagi dengan usia yang tak lagi muda, terkadang justru saya memalingkan muka atau sengaja tidak melihat...karena saya tidak bisa menahan hati untuk tidak merasa trenyuh. Dan spontan...bayangan-bayangan tentang mereka yang tak seharusnya meminta welas asih orang terlintas. "Apakah hidup ini adil?"

Minggu, 27 Juli 2014

#2 ini CINTA!!

Prianya terlahir di keluarga yang berada, namun sayang bisnis mereka jatuh, dan terpaksa ia berhenti sekolah di SD/SMP *saya lupa, yg jelas bukan SMA*

Si wanita terlahir dari keluarga berada, hidup serba enak dan dimanjakan....lantas dia bersekolah di perguruan tinggi swasta terwahid di ibu kota.

Si pria memilih menjalani hidup dengan memenuhi panggilan Tuhan bagi dirinya..menjadi seorang 'hamba Tuhan' walaupun bukan bernaung di bawah gereja...dengan penghasilan hanya 300rb/500rb *sy lupa lg tepatnya, tetapi jelas tak lebih dr angka 5*
 ***
Dan mereka menikah, menjadi pembicara yang sangat inspiratif, terjun dalam pelayanan, melayani Tuhan bersama-sama...keliling dunia berdua, terjun dalam sebuah pelayanan bersama yang sesuai dengan bidang mereka masing-masing, menjadi tim yang sangat solid, dan terutama menjadi berkat.
- Terlalu biasa??
- Tidak mungkin!! Tidak mungkin semudah itu...
- How come? Kok iso?

Jelas ada cerita..

Pertemuan mereka sederhana, pertemuan mereka tidak spesial, dari sebuah kebetulan yang jelas bukan kebetulan kalau Tuhan mengijinkan. Dengan perbedaan yg 'cukup' atau 'jelas' mencolok ini, pasti ada cerita.

Hari itu si pria bercerita:
Saya berkata kepadanya *si wanita, red*, "Saya hanya lulusan SD/SMP *lupa*..penghasilan saya hanya 300/500rb *lagi2 sy lupa*."
"Ketika saya mengatakan hal itu", kata si pria, "tidak ada perubahan raut muka darinya *si wanita*."

...............wow...batinku berkata

Hari berikutnya si wanita melanjutkan:
Ketika dia pergi ke rumah saya untuk bertemu ayah..dia hanya berpakaian sederhana, atau katakanlah 'dekil', menenteng-nenteng tas kresek. Begitu bertemu, ayah menarik saya dan berkata "Apa tidak ada yang lain?"
Si wanita dengan tegas menjawab "TIDAK!!"

...............is that for real?...I was absolutely speechless
***

Ini kisah cinta yang paling dekat sekaligus paling membekas di hati saya. 
Dari sisi pria, saya berpikir, hebat sekali dia. Bagaimana rasanya? Kehidupannya berubah sangat drastis, namun dia tidak menyimpan kepahitan, dia 'bangga' dengan panggilan hidupnya sebagai seorang 'pelayan Tuhan'. Ketika dia mencintai seorang wanita, dia 'sadar' akan posisinya, dia menawarkan 'keadaannya' kepada si wanita, bukan menutupi-nutupi karena takut ditinggalkan..dan sebagai imbalannya si wanita menerimanya UTUH, tanpa perubahan raut muka yang menandakan adanya kekecewaan karena keadaan.
Saya hormat dengan pria ini membayangkan tekanan yang dia hadapi sembari berjuang untuk bisa bersama wanita yang ia kasihi, membayangkan pergulatan pribadi, maupun tekanan eksternal.

Dari si wanita, saya berpikir, wanita ini luar biasa. Betapa tidak..dengan semua yang dia miliki, pendidikan yang dia enyam, dia tetap menautkan hatinya pada seorang pria yang 'sederhana' dan tanpa ragu ia menerima, serta menghilangkan opsi lain. Hatinya tegas,,dan mantab, tp bkn berarti tekanan berhenti. Sebagai wanita, saya mengerti bahwa pasti ada tekanan dr luar yg menekan sangat sampai ke dalam, tp toh dia tetap bertahan.
***

Cinta adalah rasa syukur. Cinta adalah doa. Beberapa orang percaya bahwa jodoh di tangan Tuhan, yang lain percaya bahwa Tuhan memberi keleluasaan bagi kita untuk memilih dengan siapa kita hendak menjalani hidup.
Saya percaya bahwa Tuhan menghormati keputusan saya, termasuk dengan siapa saya hendak menjalani hidup, tapi saya tidak bisa menyangkal bahwa doa senantiasa menjagai langkah saya. Sudah tidak terhitung berapa kali Tuhan menutup jalan saya dengan seorang pria, yang pada akhirnya saya memahami bahwa Dia melakukannya untuk kebaikan saya,,,sampai ada suatu masa, ketika saya merasa lelah, mulai menyerah, dan pasrah dengan keadaan untuk memperjuangkan kebersamaan dengan orang yang saya kasihi, Tuhan menjagai saya untuk tetap bertahan.
Seringnya 'kebetulan', bahkan saking seringnya 'kebetulan', membuat saya sadar bahwa ini bukan 'kebetulan'. Di saat mulai lelah dan menyerah, doa menggerakan Tuhan untuk menggerakan segala hal yang ada di sekitar saya untuk menyampaikan sebuah pesan: "Jangan menyerah!" "Belum waktunya menyerah, nak."

"Kita tidak bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Tapi kita bisa memilih, siapa yang patut untuk tetap diperjuangkan."
Ada kalanya kita mencintai seseorang yang akhirnya harus dilepaskan. Ada kalanya kita diperhadapkan pada pilihan. Ada kalanya kita harus menyerah. Ada kalanya kita dikhianati, dan lain sebagainya. Tapi jangan lupa, juga masih ada orang yang patut untuk diperjuangkan. Jangan sampai 'luka' membuat kita 'buta' akan segala hal yang masih baik dan pantas untuk diperjuangkan.

http://berawancom.blogspot.com/2014/05/kita-tidak-bisa-memilih-dengan-siapa.html

Jumat, 25 Juli 2014

#1 Kerja Buat Siapa?

Ini sudah kesekian kalinya saya mengikuti sebuah organisasi/kepanitiaan, tapi baru setelah bertahun-tahun terjun di dunia ini, baru semalam saya berefleksi tentang apa itu "etos kerja" dalam organisasi/kepanitiaan. Ya..baru semalam, oh tepatnya tengah malam yang sudah berganti pagi :)

Setiap orang punya egonya sendiri, dan tidak munafik jika setiap orang, termasuk saya, ingin ego tersebut dipenuhi. Yang seringkali menjadi 'penghambat' terpenuhinya ego setiap orang adalah karena kita hidup di dunia sosial, bertemu dengan manusia yang sama punya egonya dengan kita. Ego bertemu dengan ego, lalu bertabrakan, dan di situlah kita belajar berbagi dan mengerti.

"etos kerja" yang rupa-rupanya seringkali dilupakan dalam berorganisasi/berpanitia adalah "kerja buat siapa?" Orang satu ngotot pengen kaya gini, yang lain keukeh pengen kek gitu...dan terkadang tidak kesemua ide/masukan/kritik/saran tersebut dapat diterima, artinya terkadang ada yang harus "berlapang dada" mengalah. "...and here is what people you are revealed."

Masa-masa 'tabrakan' seperti itu menjadi media yang sangat baik untuk belajar memahami karakter orang dan diri sendiri. Menjadi pihak yang diterima selalu menjadi sisi yang menyenangkan, tapi bagaimana dengan yang harus "belajar menerima"?

Hari-hari ini saya sedang 'kalah suara' dalam rapat, sekaligus 'menang besar'. Saya belajar apa itu egois, sombong, ngotot, kalah, menang, rendah hati, dan hormat. Ketika lelah untuk bersuara, melalui proses yang tidak menjemukan, pertanyaanya "kerja untuk siapa?", "bertahan untuk siapa?"

Sepertinya itu yang sering kali orang lupa, memaksakan pendapat, dan ketika tidak didengar/diterima memilih untuk keluar. Pertanyannya "kerja untuk siapa?"

Saya mulai berpikir, dalam keorganisasian/kepanitiaan yang sederhana saja seringkali orang tidak bisa meredam egonya, lalu bagaimana ketika kita masuk dalam kerja sosial-masyarakat maupun partai politik? Seringkali orang lupa bahwa di saat kita memutuskan untuk terjun, kita berjuang untuk orang lain bukan untuk diri sendiri. Jadi saat melalui fase-fase yang 'menyebalkan' ini, sepertinya pantas untuk diingat "kerja untuk siapa?"..dan saat mulai merasa tertekan lagi, pantas untuk ditanamkan dalam komitmen "saya kerja untuk mereka..."

http://inspirationaltravel.blogspot.com/2013/03/douglas-adams-quotes.html

“It’s not about me; it’s about them….”