Pages

Jumat, 18 Desember 2015

#19 Kado Natal

Tahun ini, kami bertukar kado natal lagi. Beberapa orang mengatakan membelikan pakaian untuk kekasih itu pamali. Cinta mereka dipercaya akan kandas. Tapi aku tetap membeli kaos.

Pertimbanganku memilih hadiah sederhana: aku memilih membelikan kado yang jelas berguna untuk orang tersebut. Sama seperti beberapa wanita lain, aku suka diberi hadiah apapun, dari yang bisa kugunakan sehari-hari sampai pajangan yang hanya bisa memanjakan mata. Tetapi lain halnya dengan pria. Aku belajar bahwa membelikan barang untuk pria itu tidak mudah. Dan kekasihku bukanlah tipe orang yang pandai merawat barang yang "memanjakan mata" itu. Jadi, kupikir tiada guna jika kusamakan seleraku dengannya.

Tidak takutkah aku akan mitos itu?
Konon katanya, beberapa orang memang telah membuktikannya.

Keputusanku sederhana. Aku memiliki iman yang besar untuk percaya bahwa Tuhan yang memberikan kesempatan, kami yang mengusahakan, dan kembali pada-Nya yang menentukan. Jadi aku percaya saja, Tuhan yang telah memberikan kami kesempatan untuk berjumpa, mengenal, dan berbincang. Kami yang mengusahakan yang terbaik yang kami bisa. Dan kembali, Dia yang akan memutuskan.

Senin, 14 Desember 2015

#18 Today is not

Tiktok..tiktok...

How if?
How if?
How if?

This is the first time in my life. Or maybe not the first time, but the first to remember: I feel so gloomy in a December, but not the same gloominess I feel every December.
This month, not knowing how, is such a tough month. Random thoughts for blurs are passing by and they keep passing, so now I'm sure that they are not really passing. They have settled. They settle, but keep moving around within my mind.

Today, I let myself writing about my fear and anxiety. I let myself being weak: something that's somehow "it's-not-me".

Next year: 2016 will be the year I have been waiting for 4 years. A year that probably I am not gonna forget in my lifetime:
The year I've been waiting for admitting everything
The year I've been waiting for receiving the consequences
The year I've been waiting for proving my promise
The year I've been waiting for taking a very deep breath and fighting for things I believe
The year for...
The year for...
The year for...

Dear God,
Suddenly I feel shaking. Something that usually feels okay, today is not. Something that usually I feel not afraid for, today is not. The buzzes, the noises, the voices. Though I know I still have faith, but today let me permit that it is shaking. Suddenly, I feel really insecure.

Dear God, today is not.

Jumat, 13 November 2015

#17 Diam

Dulu, aku senang sekali bercerita. Bercerita tentang apapun yang sedang aku senangi, tangisi, kesalkan, sesalkan. Aku suka sekali mengumbar semuanya. Dulu.

4 tahun lalu aku merasa aku bukan lagi aku yang dulu suka bercerita. Apa atau siapa atau bagaimana aku berubah, aku tidak tau pasti. Yang kutau hanya aku tak lagi sama. Aku yang suka bercerita.

Kala itu dan saat ini aku menyadari, tak semua pikiran dapat tertuang dalam bahasa. Ada hal-hal sulit, bahkan terlalu sulit untuk dibahasakan. Maka, aku memilih diam. Tapi dalam diam, aku bukan menjadi pengecut. Tidak, tidak. Aku tidak menjadi pengecut. Aku belajar berani.

Aku belajar untuk tidak banyak berkeluh. Aku belajar untuk menerima konsekuensi pilihan yang kubuat. Aku belajar mengalami proses. Aku belajar mendengar.

Aku bertemu manusia. Kami berbicara. Kami berbagi. Dan aku memahami. Memahami utuh, tanpa intervensi ceritaku. Mendengar utuh.

Dalam diamku, aku bergumul. Dalam diamku, aku pasrah kepada Tuhanku, sama seperti malam ini. Beberapa halaman kehidupanku sungguh-sungguh tak dapat kupahami. Sukar. Rumit. Gelap. Dalam diamku, aku pasrah. Dalam diamku, aku percaya. Dalam diamku, aku menanti jawaban doaku. Dalam diamku, tanpa satu manusiapun yang tau, aku berserah pada Tuhanku.


"Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya."
-Mazmur 73:26-

Kamis, 16 Juli 2015

#16 wang sinawang

Hari ini aku belajar. Sungguh-sungguh belajar.
Bahwa hidup memang hanyalah wang-sinawang....

Rabu, 15 Juli 2015

#15 C.I.N.T.A

Aku pernah menjadi naif terhadap cinta. Jatuh cinta pada seorang lelaki, dan berpikir bahwa aku takkan bisa hidup tanpanya. Dan berpikir bahwa tidak akan pernah ada orang lain yang bisa menggantikan tempatnya nanti jika ia tak lagi di tempatnya.

Maka aku belajar. Belajar memasukkan logika dalam cintaku. Dan ketika aku memasukkan logika dalam cintaku, itu tak seperti yang kubayangkan.

Dan di sinilah aku sekarang:
Terpaut pada seorang lelaki, dan menemukan diriku terikat padanya. Seberapa pun aku mencoba menggunakan akalku, pada akhirnya aku kembali. Dan dia, seberapa pun keras pula ia mencoba menggunakan akalnya, ia pun akan pulang kembali padaku.

Selasa, 07 Juli 2015

#14 Serakah

Aku percaya manusia itu serakah. Aku percaya.
Mudah bagiku untuk menyisihkan persepuluhan di saat uangku belum seberapa.
Kini, setelah Tuhan memberikanku berkat lebih ditambah kebutuhanku yang mulai tak sedikit, aku mulai itung-itungan.
Aku percaya manusia itu serakah. Aku percaya mahkluk ciptaan ini adalah dia yang nafsunya tak pernah puas.
Aku manusia. Aku serakah.
Namun aku sadar, itu kodrat yang bisa dilawan.
Itu nafsu, sama seperti birahi, yang bisa dijaga.
Aku manusia. Aku (bisa) serakah. Aku (cenderung) serakah.
Namun aku tak mau menjadi serakah.
Aku manusia. Aku (memilih) untuk tidak serakah.

Rabu, 24 Juni 2015

#13 Jeruji Imaji



Dari balik jendela ini, biasa aku terdiam. Termenung, sepi, sambil menatap ke arah langit-langit biru cerah. Imajinasiku liar. Jendela ini, menjadi satu-satunya tempat yang bisa membebaskan pikiranku dari penjara tubuh.

Entah sudah berapa tahun lewat. Saat dimana aku memandang ke jendela, dan membayangkan diriku yang telah dewasa. Kebebasan. Terbang ke tempat antah berantah, dan memulai segala hal yang baru. Menjadi diriku sendiri. Utuh.
***

Dan di sinilah aku sekarang. Wanita berumur dua puluhan. Apa yang berubah? Aku berpikir keras...
Tak ada!


Masihkah aku memandang jendela ini dengan perasaan yang sama ketika aku seorang bocah? 
Penipu!
Kebebasan tidak serta merta diraih kala aku dewasa. 
Penipu!


Haruskah aku marah karena ilusi jendela ini? Atau haruskah aku marah pada diriku sendiri yang terlalu naif? Pada akhirnya aku menyadari, kebebasan tidak serta merta datang karena aku berusia duapuluhan. Kebebasan datang kala aku berani memperjuangkannya.

Rabu, 17 Juni 2015

#12 How Should I love?

She cries a lot in silence...
In what way should I love you?

Selasa, 16 Juni 2015

#11 Biarkan Dia Pergi

Dia adalah debu, jadi jangan mengenggamnya terlalu lekat.
Jika terlalu lekat, ia akan keluar melalui sela jari-jarimu.
Jadi....jangan genggam dia terlalu erat.
Genggamlah saja secukupnya, jangan serakah.

Dia adalah binatang liar, jadi jangan mengurungnya dalam sangkar.
Biarkan dia bebas dan lepas.
Dia tau siapa pemiliknya, dia paham siapa persinggahan hatinya.
Biarkan saja dia pergi, karena toh dia akan kembali.

Mengkotaki geraknya sama dengan memasang bom waktu.
Dia tidak diam, walau nampaknya diam.
Dia hanya menunggu dibangkitkan.
Ketika waktunya sudah tiba.

Biarkan dia pergi...
Biarkan dia terbang...
Karena dia akan kembali...
Kembali...
Kembali...
Kepada dia, sang pemilik hati...
 

Senin, 18 Mei 2015

#10 Hidup itu Pilihan..

To live is to choose, hidup itu pilihan. Kalimat ini dulunya terdengar begitu klise di telinga saya. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa ada kebenaran di balik kata-kata klise ini.

Hidup itu memilih.
Memilih untuk hidup searah dengan arus, atau berlawanan dengannya.
Hidup itu memilih.
Memilih bertahan, atau menyerah.

Seandainya seseorang mengeluh dengan kehidupan yang dijalaninya, saya yakin bahwa masing-masing memiliki berbagai alasan untuk marah. Masing-masing memiliki alasan untuk menjadi pahit. Tapi kembali, bahwa hidup adalah pilihan. 

Hari ini saya tersadar, jika saya hendak merasa marah dan pahit dalam hidup saya, saya punya berbagai alasan untuk hal tersebut. Saya hidup dikelilingi dengan ekspektasi yang tinggi terhadap diri saya. Ada kalanya saya bertanya, "Saya sudah melakukan ini itu. Masihkah kurang?"

Hidup itu memilih untuk merasa getir, atau beriman. I'm doing something for something I dunno yet, saya melakukan sesuatu untuk sesuatu yang tidak saya tahu sekarang. Tapi setiap orang memilih, memilih untuk menjalani hidup dengan cara seperti apa.

Memilih menjadi pahit.
Memilih menjadi percaya.

Kamis, 01 Januari 2015

#9 Yang Pertama dari 365

Saya masih ingat sekali. Di saat saya berusia 10 tahunlah atau waktu saya kelas 4 SD, saya mulai merasa bahwa satu tahun itu berjalan begitu cepat. Sebelum-sebelumnya, ulang tahun selalu menjadi momen yang saya tunggu: umurku tambah satu tahun! =D Sekarang, saking cepatnya, kemarin baru aja 21, besok April sudah aja mau 22.

Bertambah usia membuat saya semakin merasa bahwa tanggungan hidup saya tidak semakin mudah. Sudah ada beberapa hal yang harus direncanakan dengan matang. Ulang tahun masih menjadi momen yang spesial bagi saya, selalu spesial, tapi proses bertambah usia harus juga dibarengi dengan bertambah dewasa. Dan akhir-akhir ini saya benar-benar merasakan proses bertambah dewasa itu.

Jatuhnya pesawat dan beberapa berita duka, serta banyaknya bencana alam yang terjadi membuat saya sadar bahwa manusia berada begitu dekatnya dengan kematian. Manusia tidak pernah tahu kapan waktunya dan seperti apa caranya, dan usia tidak pernah menentukan kapan saatnya tiba. Mengutip dari khotbah Pdt. Debora kemarin, "Ketika Tuhan berkata, 'Sudah selesai1', ya sudah selesai. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan kuasa Tuhan." Bayang-bayang begitu misterius dan fananya hidup membayangi saya.

Tuhan begitu murah hati dalam kehidupan saya. Perenungan yang mengakhiri tahun 2014 dan mengawali tahun 2015 ini membuat saya senantiasa memiliki pengharapan untuk hidup lebih baik, memberikan pelayanan kepada sesama lebih baik, dan mengasihi orang-orang yang Tuhan titipkan dalam kehidupan saya.

Saya bersyukur bahwa saya tumbuh di dalam keluarga yang memberikan saya pendidikan terbaik dan segala fasilitas kehidupan terbaik. Dasar tersebut membuat saya bertumbuh dengan memiliki self-respect yang baik. Percaya bahwa saya bisa! Selain itu, melalui keluarga saya, Tuhan mengijinkan saya tumbuh menjadi seorang wanita yang tegar, pantang menyerah, dan memiliki self-endurance yang baik.

Di saat dasar-dasar nilai di keluarga mulai mengantarkan saya pada kemandirian, Tuhan menyediakan orang-orang terbaik yang mengelilingi saya: sahabat dan seorang partner. Saya, dulunya, adalah seorang yang sangat idealis. Beberapa karakter yang lemah pun banyak melekat dalam diri saya, dan melalui merekalah sedikit demi sedikit, Tuhan mulai mengikis kelemahan saya: dari seorang yang saklek, perlahan-lahan saya belajar untuk melihat dan menilai dari banyak sisi. Berusaha memahami alasan seseorang melakukan sesuatu, lebih dari hanya menilai tindakan tersebut. Bagi saya, mereka adalah hadiah yang Tuhan anugerahkan bagi kehidupan saya. Permata-permata yang tidak akan pernah tergantikan dalam kehidupan saya, dan ingin saya jaga sebaik-baiknya.

Dimulai dari keluarga, berlanjut kepada sahabat, sampai kekasih, membuat saya sadar bahwa Tuhan tidak pernah kehilangan cara untuk mengirimkan malaikat-malaikatnya untuk turut menjagai saya. Bagi saya kehidupan adalah pelayanan terhadap sesama sebagai ucapan syukur saya atas kehidupan yang terlah Tuhan beri.

2015: semoga tahun ini saya bisa lebih banyak menjadi berkat bagi banyak orang, semakin memberikan pelayanan terbaik, tanpa kehilangan semangat untuk bermain. =D

Kristus beserta..